عَنْ
أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا
قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله
صلى الله عليه وسلم
: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا
مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ
رَدٌّ. [رواه البخاري ومسلم
وفي رواية لمسلم : مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ
أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]
Dari Ummul Mu’minin Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini perkara yang tidak ada
asalnya, maka hal itu tertolak.” [1] (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa mengerjakan suatu
amalan yang tidak sesuai dengan perintah kami, maka amalan itu tertolak.” [9].
Penjelasan:
Tentang hadits ini, para ulama mengatakan: Hadits ini
merupakan timbangan-timbangan amalan yang zhahir (nampak), sedangkan hadits
Umar yang telah disebutkan di awal buku ini, yaitu: “Sesungguhnya setiap
perbuatan tergantung dari niatnya”, adalah timbangan amalan yang bathin, karena
setiap amalan memiliki niat dan bentuk. Bentuk inilah yang disebut dengan
amalan zhahir, sedangkan niat adalah amalan yang sifatnya bathin.
Hadits ini mengandung beberapa faedah:
•Orang yang mengada-adakan dalam urusan ini –yakni Islam-
perkara-perkara yang tidak ada asalnya, maka amalan itu tertolak, walaupun
pelakunya memiliki niatan yang baik. Berdasarkan prinsip ini, maka segenap
bid’ah adalah tertolak dari pelakunya kendati ia memiliki niatan yang baik.
•Barangsiapa mengerjakan suatu amalan sekalipun pada
asalnya disyari’atkan, akan tetapi amalan tersebut tidak dilakukan sesuai
dengan cara-cara yang telah diperintahkan, maka amalan itu tertolak,
berdasarkan riwayat kedua yang telah diriwayatkan oleh Muslim di atas.
Atas dasar ini, maka barangsiapa melakukan jual beli
dengan cara yang diharamkan, maka jual beli tersebut bathil, dan barangsiapa
yang melakukan shalat tathawwu’ (sunnah) pada waktu yang terlarang tanpa adanya
suatu sebab, maka shalatnya bathil. Dan barangsiapa berpuasa pada hari raya
(‘Iedul fitri / ‘Iedul adha), maka puasanya bathil. Demikianlah seterusnya.
Karena semua amalan tersebut tidak sesuai dengan perintah Allah dan rasul-Nya,
sehingga amalan tersebut tertolak.
Catatan kaki:
[1] Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam (Ash
Shulh/2697/Fath). Dan di dalam (Al Aqdliyah/1718/17/Abdul Baqi)
[2] Shahih dikeluarkan oleh Muslim (Al
Aqdliyah/1718/18/Abdul Baqi). Al Bukhari secara ta’liq (13/hal 329/Fath)
cetakan As Salafiyyah.
(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari Syarah Arbain An
Nawawiyah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, penerjemah Abu
Abdillah Salim, Penerbit Pustaka Ar Rayyan. Silakan dicopy dengan mencantumkan
URL http: //ulamasunnah.wordpress.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar